Kepri.WAHANANEWS.CO - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran merespons positif dimulainya pembangunan pipa gas West Natuna Transportation System (WNTS)–Pulau Pemping yang digagas PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI).
Proyek strategis ini dinilai menjadi langkah konkret penguatan martabat energi nasional sekaligus fondasi penting bagi Batam sebagai kawasan ekonomi strategis di perbatasan.
Baca Juga:
Preschool Field Trip TK Kurnia Global School, Murid Belajar Tugas Brimob di Satbrimob Polda Jambi
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa proyek bernilai investasi sekitar Rp1 triliun tersebut bukan pembangunan infrastruktur energi semata, melainkan simbol perubahan orientasi kebijakan negara yang semakin berpihak pada kepentingan domestik.
“Inilah keberanian negara dalam menempatkan kebutuhan nasional di atas kepentingan ekspor. Batam adalah etalase ekonomi Indonesia, dan etalase itu harus ditopang energi yang berdaulat,” ujar Tohom, Selasa (10/2/2026).
Selama bertahun-tahun, sambung Tohom, gas Natuna lebih banyak mengalir ke luar negeri, sementara kawasan industri Batam justru menghadapi risiko pasokan energi.
Baca Juga:
Polda Jambi Gelar Konferensi Pers Ungkap Kasus Tindak Pidana Perlindungan Konsumen
Dengan proyek WNTS–Pemping, arah kebijakan itu kini dibalik secara strategis.
“Ketika gas Natuna dialirkan lebih dulu ke Batam, negara sedang membangun martabatnya sendiri. Ini sejalan dengan visi Prabowo-Gibran yang menempatkan kemandirian energi sebagai prasyarat kemandirian ekonomi,” tegasnya.
Ia menilai, keandalan pasokan gas akan menjadi penopang utama pertumbuhan industri Batam yang selama ini dikenal sebagai kawasan ekonomi khusus dan pintu gerbang investasi internasional.
Ketersediaan listrik berbasis gas dinilai krusial untuk menjaga kepercayaan investor jangka panjang.
“Batam idealnya tak hanya menjadi kawasan transit modal, tapi pusat pertumbuhan industri berkelanjutan. Energi yang stabil dan terjangkau adalah kuncinya,” katanya.
Lebih jauh, Tohom menyebutkan bahwa proyek ini memiliki efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional, mulai dari penyerapan tenaga kerja, penguatan industri hilir, hingga peningkatan daya saing kawasan ekonomi Batam di tingkat regional ASEAN.
Tohom juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengingatkan pentingnya integrasi kebijakan antara proyek energi dan penataan kawasan ekonomi.
“Batam harus dilihat sebagai bagian dari aglomerasi ekonomi strategis nasional. Infrastruktur gas ini harus terhubung dengan perencanaan industri, pelabuhan, dan kawasan logistik agar manfaatnya maksimal dan tidak terfragmentasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan proyek WNTS–Pemping dapat menjadi model nasional dalam mengelola sumber daya alam secara berdaulat, efisien, dan berpihak pada kepentingan rakyat.
“Inilah wajah pembangunan yang bermartabat: sumber daya kita, dikelola untuk kemajuan wilayah kita, demi masa depan bangsa,” pungkas Tohom.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]