Perayaan bakcang menurut Edi bertepatan dengan penanggalan kalender Imlek, tanggal 5, bulan 5 adalah hari istimewa bagi warga Tionghoa seluruh dunia.
Pada hari tersebut, seluruh warga Tionghoa seluruh dunia merayakan Festival Phe Cun atau yang lebih dikenal dengan sebutan Duan Wu Jie.
Baca Juga:
Wagub Kalbar Komitmen Kembangkan Kebudayaan dengan Membangun Rumah Adat Tionghoa
Jika pada perayaan Tahun Baru China, lanjut Edi, masyarakat Tionghoa merayakannya dengan menyantap Kue Keranjang, Perayaan Zhong Qiu ditandai dengan makan Kue Bulan, dan Perayaan Dong Zhi disimbolkan dengan makan Onde Onde, maka pada Perayaan Duan Wu Jie dicirikan dengan makan Kue Bacang Asin dan Kicang Manis.
Kue Bacang dan Kicang yang dibuat dari Beras Ketan, dibungkus dengan Daun Bambu, dan diikat dengan bentuk limas segitiga atau kerucut ini dinikmati oleh Masyarakat Tionghoa di seluruh Dunia.
Menurut Edi ada legenda dalam kepercayan Tionghoa, kue kicang yang dihidangkan disaat perayaan Duan Wu Jie ini, merupakan wujud penghormatan kepada Qu Yuan, seorang patriot bangsa Han yang sangat setia kepada negara Chu.
Baca Juga:
Perjalanan Karir Politik Tjhai Chui Mie, Wali Kota Perempuan Tionghoa Pertama di Indonesia
Kue kicang memiliki makna filosofis tersendiri. Kicang yang disajikan bersama gula merah ini, merupakan simbol kesejahteraan dan kemakmuran.
"Kue Kicang yang terbuat dari beras ketan dan lengket ini, menggambarkan persaudaraan yang erat dan menyatu. Kue Kicang yang rasanya manis ini, memiliki makna suka cita, kegembiraan, memberikan berkat dan pengharapan yang terbaik dalam hidup", terang Edi.[zbr]