Rodhial menilai dari hasil peninjauannya di lapangan, kapasitas ekspor dari Natuna masih terbatas.
Muatan kapal Hongkong tidak penuh, sehingga mereka terpaksa memuat ikan dari daerah lain.
Baca Juga:
Mahasiswi Bali Jadi Korban Kecelakaan di AS, Biaya Pemulangan Jenazah Capai Rp180 Juta
"Ikan yang diekspor itu sekitar 8,4 ton saja, kita berharap, paling tidak sekali datang dapat mengangkut sampai 15 ton, baru lebih enak," sebutnya.
Menurutnya, guna meningkatkan kapasitas ekspor ikan hidup di Natuna, budidaya ikan harus digalakkan.
Ia menjelaskan bahwa, selama ini hasil tangkapan nelayan Natuna sangat bergantung pada kondisi alam, sehingga penghasilannya juga tidak menentu.
Baca Juga:
Utusan Khusus Rusia Kirill Dmitriev Umumkan Pembicaraan dengan Perwakilan Pemerintahan Trump
Menurutnya jika budidaya ikan digerakkan, maka penghasilan masyarakat bisa meningkat.
Rodhial mengatakan, dari ekspor ikan hidup yang dilakukan oleh masyarakat Natuna tersebut, belum mengkaji keuntungan daerah.
Terlebih dahulu nelayannya harus sejahtera, baru kemudian harapan terakhirnya Pendapatan Asli Daerah (PAD).