Ketersediaan listrik berbasis gas dinilai krusial untuk menjaga kepercayaan investor jangka panjang.
“Batam idealnya tak hanya menjadi kawasan transit modal, tapi pusat pertumbuhan industri berkelanjutan. Energi yang stabil dan terjangkau adalah kuncinya,” katanya.
Baca Juga:
Preschool Field Trip TK Kurnia Global School, Murid Belajar Tugas Brimob di Satbrimob Polda Jambi
Lebih jauh, Tohom menyebutkan bahwa proyek ini memiliki efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional, mulai dari penyerapan tenaga kerja, penguatan industri hilir, hingga peningkatan daya saing kawasan ekonomi Batam di tingkat regional ASEAN.
Tohom juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengingatkan pentingnya integrasi kebijakan antara proyek energi dan penataan kawasan ekonomi.
“Batam harus dilihat sebagai bagian dari aglomerasi ekonomi strategis nasional. Infrastruktur gas ini harus terhubung dengan perencanaan industri, pelabuhan, dan kawasan logistik agar manfaatnya maksimal dan tidak terfragmentasi,” ujarnya.
Baca Juga:
Polda Jambi Gelar Konferensi Pers Ungkap Kasus Tindak Pidana Perlindungan Konsumen
Ia menambahkan, keberhasilan proyek WNTS–Pemping dapat menjadi model nasional dalam mengelola sumber daya alam secara berdaulat, efisien, dan berpihak pada kepentingan rakyat.
“Inilah wajah pembangunan yang bermartabat: sumber daya kita, dikelola untuk kemajuan wilayah kita, demi masa depan bangsa,” pungkas Tohom.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]