Dalam Rapat Koordinasi Terbatas yang digelar Kemenko Perekonomian beberapa waktu lalu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut Batam memiliki peluang besar dalam pengembangan energi hijau dengan potensi hingga 3 GW, hasil kerja sama dengan Singapura.
Jika proyek ini diakselerasi, Batam bahkan bisa lebih cepat menerapkan energi hijau dibanding Johor.
Baca Juga:
Konsolidasi Asuransi BUMN Dipercepat, MARTABAT Prabowo-Gibran: Langkah Strategis Perkuat Industri Nasional
Tohom menekankan bahwa terobosan kewenangan Kepala BP Batam akan menjadi alat penting dalam menjawab tantangan regional tersebut.
Ia juga mendorong agar pembangunan lima KEK baru tidak hanya terjebak dalam model industri konvensional.
“Pembangunan lima KEK di Batam harus berbasis rencana induk yang futuristik. Jangan hanya menjadi klaster industri. Harus ada sektor unggulan seperti digitalisasi, riset terapan, dan energi terbarukan,” ungkapnya.
Baca Juga:
Transformasi BUMN Pertambangan Bergulir, MARTABAT Prabowo-Gibran: Saatnya Indonesia Naik Kelas Lewat Hilirisasi
Saat ini, KEK di BBK mencakup KEK Nongsa, KEK Batam Aero Technic, KEK Tanjung Sauh, KEK Galang Batang, dan KEK Pariwisata dan Kesehatan Internasional Batam (PKIB).
Kelima kawasan tersebut telah mencatatkan investasi sebesar Rp30,15 triliun dan menyerap 12.676 tenaga kerja dari 42 pelaku usaha hingga tahun 2024.
Tohom yang juga Ketua Aglomerasi Watch ini mengingatkan pentingnya mengintegrasikan prinsip aglomerasi cerdas dalam setiap tahap pembangunan.