Setelah mengajaknya ngobrol dengan diawali beberapa pertanyaan, tentang kehidupannya sebagai seorang nelayan.
Dengan tenang ia menjawab setiap pertanyaan yang diajukan, sambil tangannya tetap terus menarik jaring dimasukkan ke dalam karung.
Baca Juga:
Pemerintah Pastikan Pasokan BBM, LPG hingga Listrik Aman dan Lancar Selama Idulfitri 2025
Kelihatan tangannya sangat cekatan membersihkan jaring. Tangan yang sudah tidak semulus dan seputih kala ia pertama kali mengenal dunia, tangan yang memberi kehidupan bagi kelangsungan hidup keluarganya, dan tangan yang mengukir kisah perjalanan hidupnya menjadi seorang yang berani menghadang ombak di tengah lautan.
“Ya, inilah aktifitas menjadi seorang nelayan kalau belum berlayar menangkap ikan, kita bersihkan jaring, memperbaiki perahu, dan memastikan semuanya baik-baik saya,” jawab Asbi.
Hidup menjadi seorang nelayan adalah pilihan yang diambilnya sejak ia belum masuk di usia remaja, ia membangun keberanian sejak kecil, dimana kebanyakan teman seusianya ketika itu hanya berani bermain pasir bibir pantai.
Baca Juga:
Desa Sidorekso Kudus Percontohan Pengolahan Sampah Plastik Jadi BBM
Ayahnya menjadi pengatur irama hidupnya di masa itu, ia sering diajak untuk bersahabat dengan udara dingin di malam hari, ketika menjaring ikan di tengah laut.
Di tengah laut, Ia bisa menyaksikan bintang-bintang yang bertebaran di langit, cahaya dari kejauhan ikut disapu oleh pandangan-Nya.
Pengalamannya waktu itu menjadikan lembaran demi lembaran hidupnya penuh dengan tinta yang mengharu biru tentang dirinya dan laut.